Manusia Sering Mempersulit dirinya sendiri, hanya Demi Satu kata :Gengsi

Jujur, ini bukan tulisan saya, saya hanya copas artikel dari teman tapi lupa sumbernya (maaf), tapi saya rasa artikel yang berkualitas ini perlu di share ke semua orang agar mereka semua tahu kalau gak ada gunanya lagi kita gengsi atas pencapaian yang kita peroleh, atas hidup yang kita jalani. karena ceritanya ada di bawah ini, selamat membaca... 

Saya punya teman, tamatan S1, dari salah satu perguruan tinggi yang bergengsi di jawa.. Ga tahu kenapa, (mungkin karena ia lulus dengan nilai yang biasa2 aja, mungkin karena dia mencari pekerjaan di yogya, atau mungkin karena ia lahir selasa kliwon, atau karena rezekinya bukan di air..) ia menganggur terus sejak dia lulus.. Bukannya karena kurang rajin melamar, atau karena lamarannya ditolak semua, tetapi karena dia memang pilih2.. karena ia seorang lulusan perguruan tinggi bergengsi, ia punya prinsip: ga mau melamar bidang yang terlalu jauh dari bidang studinya, ga mau kalo perusahaannya ga memberikan gaji yang memuaskan, dan dia mengatakan sumpah demi Tuhan,  tidak, sekali lagi TIDAK untuk lowongan sales atau marketing..

Hasilnya? Ia tetap menganggur.. Kalo ada lowongan yang tidak sesuai dengan statusnya sebagai seorang sarjana terdidik yang bergengsi, ia akan menolaknya mentah2.. Dia sempat bekerja di beberapa perusahaan, tetapi selalu keluar lagi dengan berbagai alasan: atasan yang suka menyuruh, rekan kerja yang suka iri, gaji yang ga memadai, dan lain2.. Wiraswasta? huahahahaha.. Menurut dia, wiraswasta itu hanya untuk mereka yang gagal mencari kerja.. Apa kata dunia kalo seorang sarjana harus berjualan?

Teman saya yang lain, lain lagi ceritanya.. Sebagai seorang arjuna, dia berhasil menaklukkan hati sang srikandi (walau dicerita asli mahabrata, srikandi itu seorang bencong, tidak apa2 lah.. mari kita membayangkan srikandi itu seorang gadis tulen yang cantik jelita..). Nah, permasalahan di mulai saat ia mengajukan proposal lamaran ke sang calon mertua.. Dalam tradisi keluarga sang srikandi (bayangkan seorang gadis cantik lho, bukan bencong yang ke mana2 menenteng2 busur dan panah), setiap calon menantu harus memberikan mahar berupa emas yang harganya cukup untuk membuat para perampok bank CIMB Niaga bangkit dari kuburnya.. Sayangnya ada satu masalah kecil: sang cowok ga punya uang, dan keluarganya juga.. Runding punya runding, akhirnya sang calon mertua ngasih solusi yang cukup cemerlang dan mengiris hati: “Mas, biar keluarga besar kami ga ribut2, mas hutang aja dulu ntah ke siapa untuk membeli maharnya.. ntar kalo udah selesai acara, emas itu mas jual lagi untuk membayar hutang2 mas..”

Jadilah. Emas mahar itu menjadi pameran yang menarik di saat pernikahan, dan langsung terjual lagi setelah acara selesai..

Kita hidup di zaman, di mana banyak orang mengagung-agungkan tampilan luar.. “Biar tekor, yang penting sohor”, kata orang betawi.. Kita digempur oleh iklan barang2 setiap hari kemanapun kita menoleh.. Kita jadi mengukur standar sukses dan bahagia seseorang dari jam merek apa yang ia pakai, dia naik becak atau naik mobil, rumahnya ngontrak atau istana, pakaiannya mahal atau biasa2 aja.. Hasilnya, makin banyak orang berusaha tampil sukses dengan segera, tetapi dengan cara2 yang membuat mereka, cepat atau lambat, terjerumus dalam kesulitan.. Tololnya, kita juga sibuk saling menilai: “lha karyawan bank koq cuma naik sepeda motor?” “Katanya pengusaha, koq beli pulsa cuma 10rb?” “Kamu kan PNS, masa nraktir kami aja ga mampu?”. Kita berusaha menciptakan citra diri sukses, yang kadang2 menyusahkan diri kita sendiri: kita jadi membelanjakan jauh lebih banyak dari yang kita hasilkan..

Kita juga menjadikan status pendidikan dan pekerjaan kita sebagai batasan kita.. Apa kata dunia kalo saya dosen sambil jualan tahu? Apa kata dunia kalau saya jualan es dawet, padahal saya PNS? Saya kan lulusan perguruan tinggi, masa harus jadi sales?

“Sifat berlebih2an dan pamer, tidak pernah pantas, berapapun kekayaan yang kita punya”: kata Sam Walton, salah satu orang terkaya Amerika.. Sang investor paling kaya, Warren Buffet, malah hanya naik mobil yang biasa sekali, dengan rumah yang juga sangat biasa.. Mereka orang2 yang tidak perduli pada pandangan orang lain.. Mereka tahu, mereka hidup bukan untuk dinilai orang lain, tetapi hidup untuk dinilai oleh hatinya sendiri.. Biasanya, orang2 yang sibuk memamerkan kekayaannya, atau memamerkan kekayaan yang tidak ia punya, mempunyai rasa rendah diri di dalam hatinya.. Jalan yang ia ambil untuk meningkatkan percaya dirinya: memamerkan barang2 yang ia punya (atau yang berusaha ia punyai dengan cara memaksa diri).. Sayang sekali, itupun hanya menambal rasa percaya diri sesaat, karena ia tidak membenahi hal yang paling mendasar: hatinya sendiri..

Pandangan orang lain? Bisa berubah dengan cepat. Ada paman teman saya yang lulusan perguruan tinggi ternama, yang memilih membuat dan mengecerkan keripik dari warung ke warung di jawa tengah.. Mula2 keluarga dan teman2nya menghina dia: “oalaaaah… sarjana koq malah jadi tukang jualan keripik..” Lima tahun kemudian, usaha beliau sudah maju pesat, dan dia bisa naik haji.. Tiba2 pendapat teman2nya jadi berubah: “wah, hebat kamu ya.. jadi pengusaha keripik…” Sungguh beda tipis ya antara tukang jualan keripik dengan pengusaha keripik.. Sementara, teman saya yang pilih2 itu, tetap jadi pengangguran..

Sungguh, kita sering mempersulit diri sendiri, hanya karena gengsi kita.. Kita jadi terjerat hutang yang besar, kita pilih2 pekerjaan, atau tidak mau berwirausaha.. Kita juga terlalu ingin cepat sukses.. Ada teman saya yang karena ia baru aja jadi pengusaha yang lumayan sukses, langsung sibuk beli mobil n rumah mewah, berbelanja, dan main golf, sementara penghasilan dia belum memadai.. Hasilnya: usaha dia bangkrut, dan rumah orang tuanya tersita.. Harga yang sungguh mahal untuk sebuah gengsi..

Banyak juga teman2 yang mempunyai gengsi yang aneh2, yang sungguh mempersulit diri sendiri.. Ada yang gengsi memakai jas hujan (“kayak uwak2 aja pun!”), sehingga dia harus rela menerobos hujan sampai kebasahan, atau rela menunggu berjam2 sebelum hujan reda.. Ada yang gengsi memakai helm (“ngapain pake helm? sok patuh banget sih”) sehingga harus rela memutar2 melewati jalan2 kecil, untuk menghindari polisi.. Ada juga yang gengsi kalo ketahuan makan di tempat yang murah, padahal dompet lagi cekak.. Ada yang gengsi punya HP murah, sehingga memaksa diri beli blackberry, sehingga gajinya habis untuk menyicil..

Mungkin kata2 teman saya yang paling tepat untuk menutup cerita ini.. Teman saya, si A, mengeluh kepada teman saya yang lain, si B: “Mas, saya cari kerjaan ga dapat2, mau buka usaha ga punya modal, sementara saya pengen segera menikah dan mengirimi orang tua di kampung..” Si B, yang adalah seorang pengusaha yang merintis dari bawah, menganjurkan, “ya udah, kamu buka usaha kecil2an aja.. jualan angkringan di pinggir jalan.. Itu ga perlu modal yang besar.. ya sedikit lebih capek lah.. kalo ga padat modal, kamu ya padat karya mas..”

Si A langsung keberatan, “mas, saya kan sarjana?” Dan si B langsung tersenyum jengkel: “mas.. mas.. kamu gengsi? Makan tuh gengsi! Orang tua kamu, ga bisa kamu kirimi gengsi! Calon kamu, ga bisa kamu kasih mahar gengsi! Kalo kamu mau membuang gengsimu sekarang, kamu bisa sukses di masa depan.. Kalo kamu tetap mempertahankan gengsimu, maka, makan tuh gengsi…”

Saya jadi teringat mentor saya yang mempunyai kekayaan yang berlimpah, yang tidak pernah memamerkannya.. Itulah, menurut saya, yang disebut bergengsi: tidak memamerkan, saat ia sangat mampu melakukannya..

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel