Jelajah Flores: Batu Cermin


Pagi ini sebelum balik ke Aimere, kami memutuskan untuk mengunjungi satu destinasi wisata lagi di Labuan Bajo yang bernama Batu Cermin. Hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja dari pusat kota menuju batu Cermin meggunakan sepeda motor/mobil. Tiket masuk menuju gua Batu Cermin pun tergolong murah, kita hanya perlu merogoh kocek 20 ribu untuk bisa menikmati keindahan gua ini.

Batu cermin merupakan sebuah gua yang terbentuk secara alami. Menurut pemandu wisata yang mendampingi kami, gua Batu Cermin ini dulunya adalah gua dalam laut. Ini terbukti dari beberapa hewan laut yang menempel di dinding gua dan telah berubah menjadi fosil, diantaranya yang kami temui adalah fosil kura-kura dan beberapa kerang yang sudah membatu.

Sebelum memasuki Gua Batu Cermin, kita harus berjalan kaki sekitar 300 meter di jalan setapak yang sudah dipasang corn blok. Tidak usah khawatir anda akan kepanasan, karena di sepanjang jalan menuju gua ini udaranya sangat sejuk karena di sekitarnya ditumbuhi pohon-pohon bambu yang rimbun.

Sampai di mulut gua, saya sudah tidak sabar untuk masuk dan menikmati keindahannya dari dalam. Sebelum masuk ke dalam, pemandu wisata menginstruksikan kami untuk berhati-hati ketika masuk ke dalam karena lorong gua yang memang sempit. Pasokan udara di dalam juga sangat terbatas sehingga jika banyak pengunjung yang datang, kita harus sabar mengantri untuk masuk ke dalam gua yang berjarak kurang lebih 100 meter ini. Tidak ketinggalan, kami dibekali helm dan senter sebelum mengeksplore gua ini.

Benar juga, baru juga beberapa langkah dari mulut gua, kami harus berkali-kali menundukkan badan karena lorong gua yang seakan hampir berhimpitan. Namun itu tidak lama, setelah itu barulah kami masuk ke dalam sebuah ruangan tengah gua yang lumayan luas. Di dalam ruangan itu kami juga sempat diperlihatkan kura-kura yang menempel di atap gua dan telah membatu menjadi fosil, sungguh indah. Belum lagi stalaktit dan stalakmit yang tersusun ratusan tahun, menambah saya makin bersemangat untuk menyusuri gua Batu Cermin.

Nah, lalu kenapa gua ini dinamakan gua Batu Cermin? Kata pemandu wisata yang mendampingi kami mengatakan bahwa jika kita menyorotkan senter kita di sebuah dinding batu yang ada di gua Batu cermin, maka sinar dari senter yang disorotkan akan nampak memantulkan cahayanya. Namun ada juga pendapat lain, yaitu  goa yang berlobang di bagian  atas kalau terkena sinar matahari akan memasuki dalam goa melalui celah yang sempit itu. Saat hujan, air hujan akan memasuki goa dan menimbulkan genangan. Nah, genangan air yang terkena sinar matahari akan membuat Anda bisa melihat wajah sendiri di air hujan yang memenuhi goa. Namun, apapun alasannya gua ini menurut saya sangatlah eksotik karena memang dulunya gua ini berada di dalam laut.

Setelah puas menyusuri gua Batu Cermin, kami memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil menunggu mobil menjemput kami. Sungguh penutup perjalanan wisata yang teramat indah di Labuan Bajo. Karena hari sudah mulai siang, kami kembali ke penginapan sambil membeli beberapa cindera mata sebagai tanda kenangan di Labuan Bajo. Akhirnya, perjalanan wisata di Labuan Bajo ditutup dengan rasa puas, baik dari destinasi wisata maupun perjalananya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel